Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

30 April 2010

Posted by Vby Utami | File under :
Kisah Dua Ekor Katak
Saya teringat dengan salah satu kisah dalam buku favorit saya, “Half Full-Half Empty” yang sangat mengagumkan.

T.C.Hamlett pernah bertutur tentang dua ekor katak. Dua katak jatuh ke dalam sekaleng es krim. Sisi-sisi kaleng itu mengkilap dan curam, sedangkan krimnya begitu dalam dan dingin.

“Oh bagaimana ini?” kata katak yang pertama.

“Ini takdir, tidak ada pertolongan. Selamat tinggal sahabatku! Selamat tinggal, dunia yang menyedihkan!” ungkapnya lagi sambil menangis dan akhirnya tenggelam.
Akan tetapi, katak kedua yang juga terjatuh ke dalam kaleng tersebut langsung mengayuhkan kakinya untuk berenang. Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim.

“Paling tidak, aku akan berenang sejenak,” katanya.

“Tidak akan membantu dunia jika satu katak lagi mati.”
Hampir dua jam dia menendang dan berenang, tidak sekalipun dia mengeluh. Kayuhan kaki si katak kedua ini akhirnya membuat es krim yang ada dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras. Setelah es krim tersebut mulai berubah seperti mentega, katak itu pun lalu melompat.

Satu hal yang membedakan kedua katak dalam kisah di atas adalah cara pandang mereka terhadap dunia sekelilingnya dan bagaimana mereka bersikap terhadap hambatan yang terjadi.

Salah satu unsur penting yang kita perlukan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di sekitar kita, baik itu pekerjaan, masalah keluarga, masalah kuliah maupun masalah pribadi adalah bagaimana kita memandang masalah tersebut.

Cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh informasi apa yang selama ini, secara terus menerus, masuk ke dalam pikiran kita. Jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran, baik melalui bacaan, obrolan, perenungan maupun tontonan adalah hal-hal yang sifatnya memotivasi diri, maka orang tersebut cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis. Lain halnya jika yang masuk ke dalam pikiran adalah informasi-informasi yang cenderung melemahkan diri, informasi negatif tentang orang lain, bacaan yang didominasi oleh roman picisan, dan sebagainya. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi dirinya untuk memandang secara pesimis terhadap permasalahan yang terjadi. Itulah sebabnya seorang pakar NLP (Neuro Linguistic Programming) dalam hal ini pernah mengemukakan satu peringatan keras: “Awasi pikiranmu!”

Bila kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hanya lewat cara pandang yang positif seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak. Orang yang memiliki cara pandang positif pada umumnya sangat alergi dengan urusan pamrih atau imbalan. Baginya, menyelesaikan pekerjaan adalah the way of life (cara hidup) bukan how to life (bagaimana hidup). Mereka yang memiliki cara pandang demikian, apa pun tugas atau pekerjaan yang diberikan kepadanya akan diyakini sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Mereka memiliki cara pandang tersendiri terhadap dunia di sekelilingnya sehingga idak berharap orang lain perlu dan harus memandangnya. Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan bukan untuk dilihat oleh pimpinan dan bukan pula untuk meraih kedudukan tertentu.

Cara pandang yang positif akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja kita. Cara pandang yang positif akan memampukan kita untuk selalu optimis memandang situasi dan kondisi yang sedang terjadi di tengah lingkungan kita. Bahkan melalui cara pandang demikian, secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimilkinya. Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang positif akan memilki keinginan untuk melakukan lebih dari yang diminta dan memiliki watak pekerja cerdas. Individu yang memiliki cara pandang demikian juga, secara pribadi akan mampu memetakan kompetensi dan minatnya sehingga dia akan tahu di mana dan bagaimana dia berkembang. Dengan niat yang tulus, seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, karena dia tahu ini merupakan bagian dari hidupnya.

“Dua orang narapidana memandang keluar jendela. Napi yang satu menatap langit berbintang sambil tersenyum, sedangkan napi yang lain dengan wajah sayu menatap jalan berlumpur dan becek.”

Stephen Covey berkata,”Ketika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita, justru pada saat itu sebenarnya kitalah yang sedang bermasalah.” Sedangkan pepatah Cina mengatakan,” Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan.”

29 April 2010

Posted by Vby Utami | File under :
Harga Waktu untuk Ayah
Rio, seorang anak yang setiap sore selalu menantikan ayahnya pulang dari kantor untuk sekedar bermain bola.

Suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Rio,”Ayah, ayah kerja di kantor dibayar berapa per bulan?”

Sembari mengernyitkan dahi si ayah menjawab,”Yaa..sekitar Rp5.000.000.00!”

“Kalau sehari berarti berapa,yah?” tanya Rio.

Ayahnya mulai bingung,”Kurang lebih Rp170.000.00, ada apa sih? Kok tanya gaji segala?”

Akan tetapi, Rio tetap bertanya lagi,”Kalau setengah hari berarti Rp85.000.00,kan?”

“Iya, memangnya kenapa?” sahut ayah mulai jengkel.

Rio dengan tegas mengajukan permohonan,”Gini,yah! Tolong tambahin uang jajan Rio. Soalnya, Rio sudah punya tabungan sebanyak Rp70.000.00. Rencananya, Rio mau membeli waktu ayah setengah hari saja supaya ayah bisa nonton Rio bertanding bola!”

Seketika air mata sang ayah mengalir sembari memeluk tubuh mungil Rio.

28 April 2010

Posted by Vby Utami | File under :
Sweet Home
Beberapa bulan yang lalu (ini catatan saya yg sempat tertinggal), saya menyempatkan diri untuk berkunjung di Taman Kanak-kanak dimana saya pernah mendapatkan pendidikan formal untuk pertama kalinya. .
Suasananya sudah sangat berubah. .
Lebih banyak alat bermainnya. .

Fasilitasnya juga lumayan memadai. .


Saya pun masuk disalah satu kelas bersama seorang guru yang pernah memaksaku menulis dengan tangan kanan. .

Ku hampiri anak laki-laki yang tengah asyik menggambar rumah. .

Saya penasaran melihat gambarnya karena teman-temannya yang lain menggambar binatang piaraan. .


“Sayang. .kakak bisa tidak pinjam gambarnya?” tanyaku kepada anak itu. .
“Tunggu ya kak. , gambarku belum selesai. .” jawabnya. .

Saya tidak ingin memaksa. ,ku biarkan anak itu hanyut dalam imajinasinya. .


Tidak lama. .

“Sudah selesai,kak. . Ini gambarku. ,”

“Wow. .bagus sekali gambarmu!! Namamu siapa, sayang?” tanyaku. .

“Namaku Dimas. .”

“Emm. . .ini rumah kamu,yah?”

“Iya. .” ia menjawab sambil tertunduk malu. .

“Boleh tidak Dimas cerita sedikiiit aja. . tentang gambar ini?” pintaku. .

“Emmm….”

“Ayo dong!! Setiap gambarkan punya cerita tersendiri,” rengekku seperti anak kecil. .


Dimas pun meraih gambar yang sedari tadi ku amati. .

Ia mulai bercerita. .


“Ini rumah saya. , ini si Manis kucing saya. , ini tanaman yang setiap sore saya siram bersama bibi Inem. , ini bi Inem pengasuh saya. .”

“Loh. .papa mamanya dimana,sayang. .?” tanyaku. .

“Nggak ada,” jawab Dimas sambil tertunduk. .

“Kenapa sayang? Kok sedih?”

“Papa Mama kan jarang dirumah” jawabnya polos. .


Hatiku bergetar mendengar penuturan anak yang masih berumur kurang lebih lima tahun itu. .

Rangkaian kata-katanya sangat sederhana tapi maknanya sangat luar biasa. .

Sangat menggelitik. .

27 April 2010

Posted by Vby Utami | File under :
Coffee Bean
Saya sangat kagum melihat kelihaian tangan seorang koki tempat saya bekerja. .
Meramu masakan ala Jepang yang sangat asing di leher orang awam. .
Ku amati tangannya. .

Dia baru saja merebus wortel. .
Wortel yang tadinya keras menjadi lembek. .
Diangkat pula beberapa butir telur dari kukusan. .

Yang tadinya lembek menjadi keras. .


Perhatianku beralih. .

Kini bukan pada masakan Jepang tersebut ataupun pada kokinya yang terampil. , tapi pada “wortel dan telur” itu. .


Apa hubungannya??


Tahan sejenak. .

Pikiranku mulai berputar. .
Oh ya, saya teringat dengan sebuah kedai kopi d
i mana saya dan teman-teman selalu nongkrong tiap hari sewaktu SMA.

Hampir sama dengan koki tempat saya bekerja. , pelayan kedai ini juga sangat terampil membuat kopi sesuai suasana hati kita. .

Setiap kali saya ke sana. , saya memilih tempat yang dekat dengan “dapurnya”. .

Saya sangat menyukai aroma “ruangan” itu. .

Dimana aroma kopi yang menyerbak di dalam poci di atas tungku. .


Biji kopi itu. .

Memberi “Warna dan Rasa”. .

Ku simpulkan ketiga “benda” itu. .

Berharap ada makna yang dapat kupetik. .


Yang pertama, “Wortel”. .

Melambangkan seseorang yang tadinya teguh akan pendiriannya, tegas dan bekerja keras, setelah mendapatkan cobaan atau menghadapi masalah, dan tekanan terhadap lingkungan, kini tidak berani mengambil suatu keputusan. Sehingga dia menjadi sangat lemah dan konsep dirinya pun ikut berubah. .


Yang kedua,”Telur”. .

Melambangkan seseorang yang tadinya lemah lembut, mengerti perasaan orang lain, dan memiliki tanggung jawab, setelah diterpa masalah besar membuatnya menjadi mudah putus asa, keras kepala, mudah tersinggung dan egois. .


Yang ketiga,”Biji Kopi”
. .
Melambangkan keteguhan seseorang yang tidak pernah berubah sekalipun diterpa banyak masalah, tetap optimis dan ketika masuk dalam dapur permasalahan, ia mampu memberi warna dan aroma terhadap lingkungan sekitarnya.


“Wortel, Telur, dan Biji Kopi”


Setiap orang pasti pernah mengalami permasalahan dan setiap orang pun pasti mempunyai cara tersendiri dalam menyelesaikan masalahnya.

Entah ia bersikap layaknya “Wortel, Telur, atau Biji Kopi”


Seorang rekan saya pernah bercerita tentang permasalahannya dengan Ayahnya. .

Ayahnya harus dimutasi ke suatu daerah yang tempatnya tidak sesuai dengan gaya hidupnya yang terkesan “Hedon”. .


Lama kelamaan ia sadar bahwa ternyata permasalahnya merupakan jalan terbaik bagi kehidupannya terutama bagi keharmonisan keluarganya. .

Ia merasa semakin dekat dengan orang tuanya karena gaya hidupnya telah berubah dan waktu berkumpul dengan keluarganya makin banyak. .

Ketika masalah itu muncul, cara pandangnya telah menuntunnya untuk menjadi biji kopi yang bisa memberi keharuman bagi keluarga dan lingkungan kehidupannya yang baru. .


Mau menjadi “Wortel, Telur, atau Biji Kopi” semuanya tergantung dari bagaimana kita merespon permasalahan yang kita hadapi. .

26 April 2010

Posted by Vby Utami | File under :
Paradigma
Paradigma adalah persepsi, persepsi adalah cara pandang, kerangka pikiran, pendapat, atau keyakinan.

Jika diperhatikan secara seksama, sering kali paradigma kita keliru terhadap sesuatu. Paradigma terhadap Diri Sendiri, terhadap orang Lain, dan terhadap kehidupan.


Contoh kasus yang pernah saya alami sendiri :


Sepulang kuliah, saya berniat menemui teman-teman lama saya di tempat kami selalu bertemu.


Angkutan kota itu berhenti di halte, saya pun naik dan duduk dekat pintu berharap mendapat angin segar selama diperjalanan.


Tidak lama kemudian angkot tersebut berhenti, seorang pria berdasi dengan terburu-buru naik dan nyosor ke tempat dudukku.


“Akh. .kok maen nyosor aja sih. .?!”umpatku dalam hati.


Saya merasa gerah, apalagi jendela angkot itu tidak bisa terbuka.


Dalam hati saya tidak berhenti memaki.


“kan ga lucu, baru ketemu ma temen lama kok bau keringat? Saya kan bisa jadi bahan lelucon disana?”


Segala yang mengada-ada, menari-nari dalam otakku. Mungkin pengaruh panas yang membuat saya jadi emosional.


Tiba-tiba. .


Kkiiiiiiiiiikkkkkkkk……........!!! (suara rem mendadak)

Angkot itu hampir menambrak mobil truk yang ada di depannya. Para penumpang termasuk saya tersungkur ke depan.


Tak bisa saya bayangkan..


Kejadian itu hampir merenggut nyawa saya apabila saya tetap duduk di dekat pintu.


Saya kembali melihat pria berdasi itu.


“Bapak tidak apa-apa?” tanyaku.

“Ah. .ga apa-apa de’ cuma tangan saya yang agak sakit menahan badan,” jawabnya.

“Untung saja tadi adik bergeser,” lanjutnya.

“Emm. .iya ya! Makasih,pak!”


Kejadian itu menghentak saya.

Pria berdasi yang sedari tadi saya umpat kini bagaikan hero.
Saya betul-betul menyesal dan malu jika mengingat umpatan saya.

Paradigma saya benar-benar keliru, tidak tepat, dan terlalu cepat menarik kesimpulan.


Oleh karenanya, janganlah kita cepat-cepat menilai seseorang, mencap orang, atau membuat pandangan yang kaku tentang orang lain dari sudut pandang kita yang terbatas.


Saya baru saja mengalami “Pergeseran Paradigma terhadap Orang Lain”.


Lain halnya dengan Tentri, seorang rekan saya yang strees dengan kehidupannya.
Tentri merasa tidak ada gunanya ia hidup dengan keluarga yang Broken Home. Tidak ada lagi semangat dalam hidupnya. Nilainya di sekolah pun ikut anjlok. Katanya, Tentri yang dulu kini sudah tidak ada, sudah mati. Ah. .sungguh malang nasib cewek yang cukup popular di sekolah kami itu. Kami selalu mendekatinya, berharap kami bisa berteman seperti dulu dan bisa membantunya keluar dari masalahnya. Tapi tanggapannya selalu sama.

“Tidak ada yang bisa mengerti, tidak ada yang bisa membantu, tidak ada yang menyayangi saya lagi, saya hanya ingin mereka (orangtuanya) bersatu lagi!!”


Suatu hari, saya mencoba mendekatinya.
Suatu keajaiban, ia membalas senyumanku. Saya memulai pembicaraan yang ringan-ringan saja, takut ia “kumat” lagi. Lama kelamaan, ia mulai terbuka dan mulai bercerita tentang apa yang ia alami selama ini.

“Saya sudah mulai letih dengan semuanya! Sikap aroganku tak membuahkan hasil sama sekali. Bahkan kedua orang tuaku pun tak lagi memperdulikanku. Saya sangat malu karena tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri.” Tuturnya sambil menangis.

“Apa yang harus saya lakukan?”


Kali ini Tentri meminta saran kepadaku.

“Emm. .yang pertama dan yang paling penting, kamu harus mengubah cara pandang kamu terhadap diri kamu sendiri. Buang jauh-jauh label negatif yang selama ini kamu berikan terhadap hidupmu. Ciptakan paradigma positif yang dapat membuatmu bangkit kembali.” Saranku singkat, takut berkesan menggurui.


Itu terakhir kalinya saya berbicara dengan Tentri setelah kami dinyatakan lulus.


Beberapa bulan kemudian, Tentri mengirimkan sebuah tas cantik buatannya beserta sepucuk surat.


Dalam suratnya, Tentri berterima kasih karena berkat saran saya, ia mampu “Menggeser Paradigmanya” yang sempat menghancurkan hidupnya.
Dia juga bercerita tentang usahanya yang ia rintis sendiri karena ia berhasil memberikan label positif dalam dirinya. Hubungannya dengan orang tuanya yang telah berpisah pun cukup baik, ia mencoba mengambil hikmah dari masalahnya itu. Kini hidupnya semakin teratur dan tidak ada lagi kata putus asa baginya. Tentri kini memandang segalanya dengan cara.

Berbicara tentang Paradigma, saya selalu teringat dengan Buku The 7 Habits of Highly Effective Teens karya Sean Covey, salah satu buku favoritku.

Dalam karyanya, ia memaparkan “Paradigma tentang Dunia”.

Lebih dikhususkan yaitu “Pusat Kehidupan”.


Seperti apa??


Mari kita bahas dengan bantuan Paman Sean Covey!

Biasanya kita bisa tahu paradigma kita dengan bertanya kepada diri sendiri, seperti :


“Apa sih sumber inspirasi bagiku?”

“Apa saja yang mendominasi pikiranku?”

“Apa obsesiku?”


Apapun yang paling penting bagi kita akan menjadi paradigma atau pusat kehidupan kita.

Beberapa pusat kehidupan yang populer diangkat oleh Sean Covey yaitu terpusat pada Teman, Barang, Pacar, dan Diri Sendiri.


Terpusat pada Teman


Tak ada yang lebih baik selain menjadi anggota geng di sekolah. Pikirku dulu.
Teman itu penting tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan kita.

Mengapa demikian?


Karena sewaktu-waktu mereka bisa saja berubah, sesekali tidak tulus, terkadang memfitnah, atau mungkin saja ia pindah. Itu akan membuat kita sedih.


Jika kita mendasarkan identitas kita pada apakah kita punya banyak teman, apakah kita diterima dalam pergaulan, atau apakah kita popular, bisa-bisa kita tidak menjadi diri sendiri dan selalu menyesuaikan diri demi teman-teman kita.
Percaya atau tidak, suatu saat nanti teman-teman kita bukanlah hal terpenting lagi dalam hidup kita. Saya sendiri pernah mengalaminya ketika masih duduk dibangku SMA.

Apapun saya lakukan demi mereka karena saya tidak ingin dicap sebagai teman yang tidak setia kawan.
Segalanya kami lakukan secara bersama-sama. Menerobos lampu merah saat jalan-jalan menggunakan sepeda motor. Mencoret-coret tembok sekolah yang jelas-jelas melanggar tata tertib sekolah. Bahkan tidak mengikuti jam pelajaran sekolah. Prinsip kami waktu itu, yang penting happy dan nikmati aja selagi masih muda. Saya sangat bergantung pada teman-teman saya. Saya berpikir, merekalah sahabat sejati saya selama-lamanya.

Tetapi pada kenyataannya setelah kami lulus dan beberapa teman pindah, saya heran betapa jarangnya kami bertemu lagi.


Tempat tinggal yang saling berjauhan, teman-teman baru, lingkungan baru, pekerjaan baru, menghabiskan waktu kami.


Ketika masih SMA, saya tak mungkin memahami hal ini.


”Perbanyaklah sahabatmu, tetapi janganlah bangun hidupmu di atasnya. Karena itu landasan yang tidak stabil.”


Terpusat pada Barang


Tanpa disadari kita sering memandang seseorang dengan apa yang ia miliki (harta benda), prestasinya, jabatannya, gelarnya, keturunannya siapa, anaknya siapa, dan lain sebagainya yang bersifat materiil.


Ya. .kita memang hidup di dunia materiil yang mengajarkan bahwa “ Siapa yang mati dengan harta yang paling banyak, dialah pemenangnya!”


Berprestasi atau menikmati barang-barang yang kita miliki memang tidak ada salahnya, tetapi kita tidak boleh memusatkan hidup kita pada barang-barang tersebut, karena itu tidak akan abadi.


Kepercayaan diri hendaknya berasal dari dalam diri, bukan dari luar, dari kualitas hati, bukan kuantitas barang-barang yang kita miliki.


“kan yang mati dengan harta yang paling banyak, tetap saja mati. .”


Saya pernah kenal dengan seorang cowok yang memilki koleksi mahal. Ia mengoleksi mobil-mobil import, ia anak salah seorang pengusaha sukses. Dan setiap kali bertemu dengannya, mobilnya pasti lain lagi.


Setelah mengenalnya lebih dekat, saya mulai memperhatikan bahwa kepercayaan dirinya banyak bergantung pada mobil dan harta yang ia miliki. Setiap kali berkumpul dengan teman-temannya, yang ia bahas hanyalah seputar apa yang mobilnya miliki.


Entah itu dari speakernya yang baru, jok yang baru, atau tambahan aksesories mobilnya yang baru.
Ia pun sering membandingkan mobilnya dengan mobil teman-temannya yang jelas-jelas tidak sekeren mobilnya. Namun, jika ada yang menyainginya, ia tidak segan-segan merengek kepada Ayahnya. Hal itu sungguh membuat saya muak. Ia benar-benar terpusat pada barang-barangnya. Saya pernah mendengar suatu ungkapan : “Kalau siapa saya adalah tergantung pada apa yang saya miliki, dan apa yang saya miliki itu sudah hilang, lalu. . siapa saya ini?”

Terpusat pada Pacar


Perangkap ini sangat sering memakan korban. Maksud saya, siapa sih yang tidak pernah terpusat pada pacarnya?


Ironisnya, semakin kita memusatkan hidup pada seseorang, semakin kita jadi tidak menarik bagi orang itu.


Kok bisa?


Ya. .pertama-tama, kalau kita terpusat pasa seseorang, kita tidak lagi sulit didapat. Kedua, menyebalkan tidak kalau seseorang menggantungkan seluruh kehidupan emosionalnya pada kita? Karena menurutnya, ketentraman hidupnya berasal dari kita bukan dari dalam dirinya sendiri.


Lain halnya dengan Tommy yang sangat mengagumi pasangannya, Cechyl.


Ketika Tommy mengajak Cechyl ngedate, Cechyl malah menolak dengan alasan ia masih punya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan secepatnya. Bukannya Tommy marah karena segala sesuatunya telah ia siapkan, tetapi ia menjadi sangat bangga karena Cechyl ternyata wanita mandiri dan punya kekuatan sendiri. Suasana hatinya tidaklah tergantung pada suasana hati Tommy.


Kita bisa tahu kalau ada pasangan yang menjadi saling terpusat kepada satu sama lain, setelah putus pasti rujuk lagi. Walaupun hubungan mereka sudah jelas memburuk, kehidupan emosional serta identitas mereka begitu terpaut sehingga mereka takkan pernah dapat melepaskan satu sama lain.


Percayalah, kita akan menjadi pasangan yang lebih baik jika kita tidak terpusat pada pasangan kita.


Kemandirian itu lebih baik dari pada ketergantungan. Lagipula, memusatkan hidup pada orang lain bukanlah menunjukkan kita mengasihinya, melainkan tergantung kepadanya.


Punya banyak pacar bisa aja (oups. .!!), tapi jangan sekali-kali terobsesi atau terpusat padanya, walaupun ada pengecualiannya karena hubungan-hubungan demikian tidaklah stabil.


Terpusat pada Diri Sendiri


Satu lagi pusat yang paling umum adalah terpusat pada diri sendiri, atau menganggap dunia berputar di sekeliling kita dan masalah-masalah kita.


Ini sering kali mengakibatkan kita begitu mengkhawatirkan kondisi kita sehingga lupa dengan orang-orang yang bermasalah di sekeliling kita.


Seperti yang kita bahas sebelumnya dan masih banyak lagi pusat kehidupan lainnya, semuanya tidak memberikan kestabilan yang kita butuhkan dalam hidup kita. Bukan berarti kita tidak berupaya meraih kesempurnaan dalam sesuatu, tetapi ada garis tipis antara bersemangat akan sesuatu, dengan mendasarkan seluruh keberadaan kita pada sesuatu itu. Dan hendaknya kita tidak melewati garis itu.


Yang sejati, Yang Terpusat pada Prinsip


Kita pasti sudah tahu dampak gravitasi bumi. Jika melemparkan suatu benda ke atas, pasti akan jatuh. Itu adalah hukum atau prinsip alam. Sama seperti halnya ada prinsip-prinsip yang mengatur dunia fisik, ada juga mengatur dunia manusia. Prinsip-prinsip itu tidak memihak pada siapa. Tidak pada Amerika ataupun Irak. Prinsip-prinsip bukan milik saya pribadi atau milikmu. Prinsip-prinsip bukanlah untuk didiskusikan. Prinsip-prinsip ini berlaku bagi semua orang, yang kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, petani, buruh, pengusaha, ataupun nelayan. Prinsip-prinsip tidak diperjualbelikan. Kalau kita hidup sesuai dengan prinsip, kita akan meraih kesempurnaan, jika dilanggar, akan gagal. Cukup sederhana.


Sebagai contoh: Kejujuran itu prinsip, kerja keras itu prinsip, hormat, rasa syukur, adil, integritas, loyalitas, dan tanggungjawab adalah prinsip.


Prinsip tidak pernah gagal


Hidup menurut prinsip membutuhkan iman, terutama kalau kita melihat orang terdekat kita maju dengan berbohong, menipu, memanipulasi, dan hanya mementingkan diri sendiri. Tetapi yang tidak kita lihat adalah bahwa melanggar prinsip pasti mengejar mereka pada akhirnya.


Umpamanya prinsip kejujuran. Kalau kita pembohong besar, kita mungkin lolos untuk sementara waktu bahkan bertahun-tahun. Tetapi sulit kan menemukan pembohong yang mencapai sukses dalam jangka panjang?


Tidak seperti semua pusat yang telah kita bahas, prinsip-prinsip takkan pernah mengecewakan kita. Prinsip-prinsip tidak akan membicarakan kita di belakang. Prinsip-prinsip takkan pernah pindah. Hidup yang terpusat pada prinsip adalah landasan yang paling stabil, yang takkan tergoyahkan, yang bisa kita andalkan untuk membangun kehidupan di atasnya, dan kita semua membutuhkannya.


Untuk memahami mengapa prinsip-prinsip itu selalu efektif, coba bayangkan kita menjalani hidup yang didasarkan pada kebalikannya. Hidup dengan penuh kebohongan, bersenang-senang, buang-buang waktu, mementingkan diri sendiri, tidak hormat, dan tidak tahu bersyukur.


Mendahulukan prinsip-prinsip adalah kunci untuk lebih sukses dalam hal lainnya. Kalau kita amalkan prinsip-prinsip kejujuran, sikap hormat, penuh kasih sayang, loyalitas, dan tanggungjawab, misalnya, kita akan mendapatkan banyak teman atau bahkan pacar yang lebih stabil. Mendahulukan prinsip-prinsip juga merupakan kunci menjadi orang yang mempunyai karakter.


Putuskanlah hari ini untuk menjadikan prinsip-prinsip sebagai pusat hidup kita atau paradigma kita. Dalam situasi apapun kita berada, tanyakan, “Prinsip apa ya yang berlaku dalam hal ini?”


Untuk setiap masalah, marilah mencari prinsip yang akan menyelesaikannya.

25 April 2010

Posted by Vby Utami | File under : , ,
Roti Canai
(Catatan yg telat diposting.. hehe.. :D)

Senin malam yang sedikit suntuk. . =(
Ada janji yg yg tidak terlaksana. .
Huft. .

Menghibur diri dengan mencari tempat makan. .
Dengan menggunakan motor pinjaman, sy pun berkeliling disekitar jln perintis kemerdekaan (jalan yg selalu kita lalui ketika hendak ke SPUP). . =)

Mata sy tertuju ke "Kedai Roti Canai". .
Kedai yg berukuran tidak terlalu besar. .
Juga tidak terlalu ramai oleh pengunjung. .
Sy jd penasaran. .
Pikiran bawah sadar sy langsung memerintahkan setir motor sy utk singgah. .
Rem mendadak. . . Kkiiiiikkkkk. . . hussh. . .
Sy nyaris tertabrak oleh motor yg berada tepat dibelakang sy. .

Pisss*
Sy yg salah. .
Hehehe. . . =)

Untung dia tak marah. .
Rasa kaget membuat perut sy makin lapar. . =)

Dengan sigap sy memarkir motor tepat di depan kedai itu. .
"Kedai Roti Canai"

Sepi. .
Hanya 1 meja yg terisi oleh beberapa org, yg tampaknya mahasiswa. .
Sy memilih kursi paling pojok. .

Huft. . Daftar Menu yg agak ribet. . (nggak ngerti menunya) =)
Setelah beberapa menit berfikir., sy pun memesan "Roti Canai Telur + Teh'O Panas"

Suasana sepi berubah sedikit gaduh. .
Meja yg telah terisi td ternyata Mahasiswa Malaysia. .
Sy bisa menebak krn mendengar dialek mereka yg sangat kental. .

Sedikit gaduh oleh canda tawa mereka. .
Tak terasa, sy pun ikutan tersenyum. . =)

Sejenak. , Roti Canai terlupakan. .
Pilot otomatis (pikiran bawah sadar,red) tertuju kepada "Kalian". .
Pelupuk mataku pun berubah. , terisi oleh air bening yg sedikit lagi akan tumpah. .
Yaa. . Emosi tak tertahankan. ,

"Vby sangat sangat sangat. . . kangen Kalian"

Melihat canda tawa Mahasiswa Malaysia itu. ,
Membawaku ke alam khayal. .
Membawaku merasa berada di antara kalian. .
Membawaku dimasa "Kita Gila-gilaan". .
Membawaku dimasa "Kita merasakan arti memiliki satu sama lain". .

Teringat pula 2 hari yang lalu, ketika sy camping di pinggir tebing. .
Sy begadang sampai jam 4 subuh. , hanya utk lihat bintang. . =)
Banyak bintang bertaburan. .
Sy nggak mau melewatkannya. .
Masa itu pun mengingatkan sy ketika kita berada di "Pulau Khayangan dan Bone"

Setiap langkahku. .
Teringat akan kalian. .
(Ini bukan berlebihan, tapi ini merupakan suara hati sy). .
Hehehe. . =)

Lamunanku buyar mencium aroma "Kari & Roti Canai Telur". .
Hemmm. . . enaknya. . . :)'

Kalian mau. ,nggak??
Come here!! Vby traktir. ,degh. . =)

24 April 2010

Posted by Vby Utami | File under : ,
Kisah Sang Bintang
Pada suatu malam seperti hari sebelumnya, hujan turun membasahi halaman rumahku yang sempit. .
Aku seorang diri lagi. . =(
Aku tak tahan dan bertanya pada langit. .

“Langit!! Mengapa engkau tak menampakkan bintangmu?”
“Apakah mereka sudah lengah?”

Langit tetap saja terdiam

“Langit!! Tolong jawab pertanyaanku!!”
“Mengapa engkau diam saja??”
“Akankah engkau juga tak peduli?”

Aku ulangi pertanyaan itu hingga pipi meronaku basah, bukan karena air hujan tapi air mata yang tak dapat dibendung sedari tadi. .
Tiba-tiba. .
Suara lirih datang menyapa. .

“Mengapa engkau begitu marah kepadaku??”
“Ahh. .!? Engkaukah itu Sang Bintang??”
“Yaa. .Ini aku?! Sang Bintang yang tak pernah berniat meninggalkanmu barang sedikit pun. .”
“Mmmana mungkin? Engkau baru saja meninggalkanku! Engkau jahat!”
“Haha. . Jahat? Apa buktinya?”
“Buktinya sudah cukup jelas, beberapa hari ini aku sering menunggumu di sini, berharap engkau datang menghibur dan menemani malamku. .”
“Haha. .”
“Mengapa engkau tertawa? Engkau senang melihat aku menderita tanpamu?”
“Wahh. .bukan itu maksud aku. . Aku juga sangat merindukan senyumanmu! Sumpah!!”
“Lalu? Jika rindu, mengapa tak datang? Bukankah itu lebih baik?”
“Kan ada hujan yang menemani malammu? Bukankah engkau pun menyukai hujan? Bukankah selama ini hujan selalu membuatmu ceria? Bukankah setelah hujan akan ada pelangi yang selalu menghiasi langit? Bukankah engkau sangat mengagumi pelangi? Hujan dan pelangi juga kawanku. .”
“Mmmm. . .”
“Sayang. . Aku tak pernah meninggalkanmu. . Aku selalu ada untukmu, selalu ada di dekatmu walau pun engkau tak pernah melihatku. . Yaa. . engkau tak pernah melihatku karena awan menutupiku. . Tapi aku melihatmu di balik awan itu, dan jika engkau bisa mengontrol perasaanmu, engkau pun bisa melihatku. . Dan kita pastinya dapat bermain bersama. . “
“Kalau begitu, hapus saja awannya! Biar tak ada penghalang diantara kita. .”
“Sekali lagi, Engkau masih menggunakan egomu sayang. .”
“Mmmmm. . .??”
“Tahukah engkau, mengapa ada rongga diantara paru-parumu? Agar engkau bisa bernafas lega. . Atau mengapa harus ada spasi diantara kata per kata yang engkau tuliskan? Agar tulisanmu indah, bisa dibaca dan mempunyai makna. . Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang saling berdekatan, tapi ia tak ingin saling mencekik, jadi ulurlah tali itu. . Jiwa tidaklah dibelah tapi bersua dengan jiwa lain yang searah, jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang. . Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat karena aku ingin seiring dan bukan digiring. . Yaa. . seperti itulah kita. . Kali ini, engkau akan paham akan kata-kataku sayang. .”

Sejenak aku tertegun. .
Sang Bintang begitu sayang padaku. .
Walau terpisah oleh jarak. . Sang Bintang tetap memperhatikanku. .

“Yaa. . Kali ini aku paham! Jarak itu, rongga itu, spasi itu. , semua bermakna. . Terima kasih Bintang, engkau memang penerang bagi hidupku. .”
“You are welcome! Aku ada karena engkau ada kan. .?” =)
“So? Apa yang akan kita lakukan?”
“Bagaimana kalau kita bernyanyi? Mengikuti irama hentakan hujan?”
“Wahh. . Good idea!! Dan setelah itu, keesokan harinya, aku akan melihat pelangi menyambut pagi. . Itu akan membuat hariku semakin berwarna. .”
“Ingatlah sayang. . Sang Bintang tak akan pernah meninggalkanmu. . Tak pernah tidur. . Selalu melihatmu di siang dan malam. . Selalu menjagamu walau engkau tak sadar. . Kerlipan itu hanya untukmu. .”