Showing posts with label Adventures. Show all posts
Showing posts with label Adventures. Show all posts

10 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : , ,

Pos 1 ke Pos 2

Kami meninggalkan Pos 1 pukul 07.25 WITA dan sampai di Pos 2 pukul 08.20 WITA. Untuk menuju Pos ini perlu kehati-hatian karena terdapat rumput yang tinggi, tumbuhan berduri, dan banyak pohon tumbang. Hal itu pula yang menyebabkan kami hampir tersesat, tetapi dengan bantuan Leader kami yang tanggap akhirnya kami kembali ke jalur yang benar. Suhu pada saat itu sekitar 26°C. Pada Pos ini terdapat pula aliran sungai kecil yang menjadi sumber air kami untuk membuat minuman Nutrisari sebagai pelepas dahaga.

Pos 2 ke Pos 3

Kami meninggalkan Pos 2 pukul 08.45 WITA dan sampai di Pos 3 pukul 09.25 WITA. Pada saat itu cuaca cukup cerah walaupun suhunya mencapai 25°C.

Medan yang ditempuh sedikit penurunan dan banyak pendakian. Jalur menuju Pos ini cukup jelas karena terdapat banyak tanda-tanda yang bergantungan disepanjang jalur.
Di Pos ini cukup lapang dan datar, disekitarnya terdapat banyak pohon tinggi nan kokoh, kicauan burung dan jangkring serta nyamuk hutan.

Pos 3 ke Pos 4

Untuk mencapai Pos 4, kami menghabiskan waktu sekitar ± 50 menit dikarenakan kami sering berhenti untuk beristirahat. Kami tiba di Pos ini pukul 10.22 WITA dengan suhu 24ºC.

Sepanjang perjalanan kami mengamati lingkungan sekitar, banyak pohon tumbang, banyak pula pohon yang ditumbuhi lumut. Kicauan burung dan suara jangkrik tetap menghibur kami selama perjalanan.

Leader memberi isyarat kepada kami agar tetap kuat dan semangat, jangan saling meninggalkan, jangan juga selalu berhenti karena akan membuat tubuh semakin lelah, dan selalu mengingatkan kepada kami bahwa puncak itu indah sekali, kita bisa menyentuh awan. Sesaat imajinasi kami menerawang, tapi buyar karena aba-aba dari Leader yang mengharuskan kami melanjutkan perjalanan.

Pos 4 ke Pos 5


Kami berangkat dari Pos 4 pukul 10.33 dan sampai di Pos 5 pukul 11.25. Suhu pada saat itu sekitar 23ºC. Kami menghabiskan banyak waktu untuk menuju ke Pos ini karena medan yang sangat sulit dan jarak yang cukup jauh. Jalanan menanjak dan banyak batu besar yang berlumut. Disamping itu, banyak pohon tinggi dan banyak pohon yang batangnya berlumut. Diperlukan kehati-hatian dalam memegang batang pohon yang berlumut karena banyaknya pacet yang melengket disana. Di Pos ini kami bertemu dengan kelompok III.

Di Pos 5 terdapat sumber air yang agak jauh turun ke bawah. Sumber air tersebut kami manfaatkan untuk wudhu (shalat dhuhur jamak ashar) dan membuat makanan dan minuman.
Pos ini terdapat banyak pohon tumbang dikarenakan habis kebakaran dan penebangan liar. Karena Pos ini lapang dan berpemandangan terbuka, pendaki menjadikan tempat ini sebagai persinggahan untuk mendirikan camp. Terlihat tak jauh dari tempat kami beristirahat terdapat PA lain yang mendirikan camp disana.

Di pos ini pula kami ingin melakukan navigasi, tapi baru saja kami menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, suara gemuruh guntur disertai kilat yang menyambar membelah langit mendung.

Sesaat kabut datang dan tidak menunggu lama, hujan pun turun dengan sangat deras. Kami tidak jadi melakukan navigasi. Ponco kami keluarkan dan segera memakainya.
Sudah 1 jam lebih kami menunggu berharap bisa melanjutkan navigasi, tapi hujan tak kunjung reda. Suhu semakin meningkat mencapai 22°C. Kami pun berembuk dengan Leader kami, meminta saran apakah kami tetap melanjutkan perjalanan atau menunggu hujan berhenti.

Waktu menunjukkan pukul 13.25 WITA hujan tidak lagi deras, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Pos 6 dan mencari waktu dan cuaca yang baik untuk melakukan navigasi. Kami tetap memakai ponco dan hujan rintik-rintik mengawali perjalanan kami menuju Pos 6.

Pos 5 ke Pos 6

Hujan yang kadang deras, kadang berhenti mengawal perjalanan kami menuju Pos 6. Jarak yang cukup panjang sehingga kami baru tiba pada pukul 15.50 WITA dengan suhu 19°C.

Jalanan yang mendaki, pohon tumbang serta batu besar berlumut banyak kami jumpai selama perjalanan menuju Pos ini. Sesekali kami berjumpa dengan PA lain yang juga melakukan pendakian ke puncak Gunung Bawakaraeng.

Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan untuk berfoto bersama. Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama dengan kelompok III.

Pos 6 ke Pos 7



Kami tiba di Pos 7 pukul 17.15 WITA dengan suhu 17°C. Perjalanan menuju Pos ini cukup sulit karena tanjakan dan pendakian yang begitu panjang, sesekali kami beristirahat sejenak meskipun hanya 5 menit. Cuaca pada saat itu tak menentu, kadang hujan deras, kadang berhenti sebentar lalu hujan lagi.

Dengan cuaca yang tidak menentu tersebut dan tenaga yang makin lelah, kami meminta saran kepada Leader kami untuk membuat camp di Pos ini. Daerah Pos 7 merupakan puncak Bulu Surabaiya dengan ketinggian 2.560 mdpl.

Setelah melakukan briefing, kami memutuskan untuk menginap di Pos 7 meskipun di Pos ini tidak terdapat sumber air. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah salah satu teman kami, Veby sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan, cuaca yang buruk, dan perut yang lapar.

Kami tidak menunggu lama untuk mendirikan tenda dan setelah itu kami mengumpulkan sisa air minum kami untuk membuat makanan. Untungnya air kami cukup untuk memasak dan minum.

Setelah makan, kami briefing untuk membicarakan lanjutan perjalanan kami untuk esok hari. Leader kami menyarankan agar kami tidur lebih awal agar besok setelah shalat shubuh kami melanjutkan perjalanan ke Pos 8.

Suhu pada saat itu semakin meningkat mencapai 16°C. Suhu yang sangat dingin dibarengi hujan rintik-rintik. Kurang lebih pukul 20.00 WITA, kami pun masuk ke tenda masing-masing.

Tak terasa waktu bergulir, tak terasa pula waktu shalat shubuh telah usai. Tak ada kumandang azan, tak ada pula suara ayam berkokok menjemput fajar. Kami benar-benar tidur dengan sangat pulas.

Sebelum berangkat menuju Pos 8, kami menyempatkan untuk briefing. Hasil dari briefing tersebut merupakan kesepakatan bersama yaitu kami meninggalkan barang-barang bawaan dan satu tenda tetap berdiri di Pos ini. K’Babho bersedia untuk menjaga barang bawaan kami yang berarti K’Babho tidak ikut ke Puncak Gunung Bawakaraeng. Kami sebenarnya agak sedih karena meninggalkan K’Babho tapi untuk kelancaran perjalanan kami, hal itu merupakan solusi tepat buat kami.

K’Babho berpesan kepada kami untuk mengambil air di Pos 8 pada saat perjalanan pulang dari Puncak Gunung Bawakaraeng. K’Babho akan menyiapkan makan siang untuk kami.

Pos 7 ke Pos 8

Tepat pukul 06.05 WITA kami meninggalkan Pos 7. Hujan tidak menyurutkan niat kami menuju puncak. Jarak yang sangat jauh, jalan yang licin, medan yang sulit, hingga kemiringan lereng 30° kami tempuh dengan penuh semangat. Jalur yang kami lalui terdapat jurang disisinya. Disinilah kekompakan dan kesetiaan teman kelompok diuji. Sesekali kami harus menunggu teman kami, Veby yang merupakan satu-satunya perempuan yang ikut serta dalam pendakian ini.

Pukul 07.50 WITA dengan suhu mencapai 15°C kami tiba di Pos 8. Kami menyempatkan untuk mengambil air minum dan mencuci piring yang semalam kami pakai untuk makan malam. Kami pun minum sepuasnya karena sejak tadi malam kami hanya minum sedikit air. Air sejuk itu mengalir melepas dahaga kami, ditambah manisnya minuman Nutrisari.

Pos 8 ke Pos 9

Pos 8 kami tinggalkan pukul 08.05 WITA dan sampai di Pos 9 pada pukul 09.12. Menanjak dan tebing curam merupakan ciri dari medan menuju 9. Batu-batu besar berlumut dan licin serta tanaman-tanaman indah seperti bunga Edelweis sering kami jumpai. Rasa lelah berubah kagum melihat pemandangan disekitar. Tidak menyangka bahwa kami sudah mendaki begitu tinggi. Matahari cukup terik namun berkabut dengan suhu 13°C.

Di Pos ini kami tidak beristirahat lama, cuma mengambil air dan langsung menuju ke Pos 10. Leader terus menyemangati kami agar berjalan lebih cepat. Momen pagi hari di puncak sangat indah dan sangat sayang jika terlewatkan.

Pos 9 ke Pos 10

Dari Pos 9 terlihat medan yang akan dilalui. Medan yang terus menanjak, tapi tak akan menyurutkan semangat kami menuju Pos 10. Sekitar pukul 10.05 kami tiba di Pos ini dengan suhu 11°C. Terdapat bunga Edelweis, kabut dan pepohonan menambah kesejukan Pos ini.

Pos 10 biasanya dijadikan tempat untuk membuat camp. Terbukti beberapa tenda berdiri di Pos ini. Tak lama kami melepas lelah disini karena Leader memberi isyarat agar kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Bawakaraeng.

Pos 10 ke Puncak Gunung Bawakaraeng



Dari Pos 10 ke Puncak tak memakan banyak waktu tetapi perlu kehati-hatian. Tepat pukul 10.15 WITA dengan suhu yang mencapai 10°C akhirnya kami sampai di Puncak Bawakaraeng, tempat yang sangat kami nantikan.

Medan yang kami tempuh menuju puncak tidak begitu sulit dibanding pos-pos sebelumnya, hanya saja perlu kehati-hatian karena banyak kabut yang menutupi pandangan.

Sesaat perasaan kami seperti berada di Negeri Awan. Dari atas puncak yang terlihat hanyalah bongkahan awan. Tak lupa kami mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kami kekuatan menuju Puncak Gunung Bawakaraeng, salah satu gunung yang mempunyai berbagai mitos.

Berfoto merupakan ritual yang tak akan kami lewatkan. Secara bergantian, kami berfoto di Triangulase. Di puncak kami juga sempat membuat kopi, makan biskuit, dan bercengkrama dengan PA lain. Panasnya kopi tak terasa karena suhu yang semakin dingin, mendekati 9°C.

Kabut semakin banyak, hujan segera turun. Leader memberi aba-aba agar kami segera turun. Kami pun bergegas membereskan gelas-gelas dan botol minuman yang telah kami gunakan. Sebelum turun, kami menyempatkan untuk berfoto bersama. Akhirnya dengan berat hati, kami pun meninggalkan Puncak Gunung Bawakaraeng dan berharap agar suatu saat nanti kami bisa kembali lagi.

8 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : , ,
Sabtu 24 April 2010 tepat pukul 00.50 WITA kami berkumpul di depan rumah Tata Supu, berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan menuju puncak Gunung Bawakaraeng.

Perjalanan akhirnya kami lakukan sambil mengamati keadaan sekitar serta medan perjalanan yang kami lalui. Meskipun suasana sekitar sangatlah gelap dan dingin, tetapi kami tak pantang menyerah. Cahaya lampu senter dan iringan doa sebagai penerangan kami.

Lelah dan kantuk tak dapat kami bendung. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di Pos 0,5 (begitulah kami menyebutnya karena camp kami terletak antara Desa Lembanna dan Pos 1). Waktu menunjukkan pukul 01.35 WITA dan suhu 22°C. Kami pun bergegas membersihkan lokasi sekitar, membangun tenda, dan menyiapkan makanan serta teh. Suhu yang semakin dingin membuat perut kami makin lapar. Tidak jauh dari camp terdapat aliran sungai kecil yang menjadi sumber air kami.


Waktu menunjukkan pukul 03.15 dengan suhu yang semakin dingin 21°C. Setelah makan dan mencuci piring, Leader kami memberi arahan bahwa besok kami harus melanjutkan perjalanan pada pagi hari. Setelah itu, kami masing-masing masuk tenda dan tidur.

Tanpa terasa, matahari telah terbit. Setelah melakukan shalat Shubuh, kami membuat sarapan dan makan pagi. Sebagian dari kami packing tenda dan alat-alat lainnya.

Leader kami selalu mengingatkan bahwa kami harus bergerak cepat. Makan pun terasa dikejar, tapi kami maklum mengingat perjalanan menuju puncak Gunung Bawakaraeng masih panjang. Pukul 07.05 WITA dengan suhu 26°C kami meninggalkan camp pertama menuju Pos 1.

Kami hanya menghabiskan waktu ±15 menit untuk sampai di Pos 1. Medan yang kami lalui menuju Pos 1 tidaklah begitu sulit, jalur pun terlihat jelas, disekitar terdapat banyak pohon pinus dan semak belukar. Waktu menunjukkan pukul 07.20 WITA dengan suhu tetap 26°C. Di Pos 1 keadaan sekitar agak tandus, terdapat tanah lapang yang biasa dijadikan camp. Di pos ini juga terdapat jalur menuju Lembah Ramma.

7 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : ,
Gunung Bawakaraeng

Gunung Bawakaraeng merupakan gunung tertinggi ketujuh di Sulawesi Selatan yang memiliki ketinggian 2.839 mdpl (Sumber: BPS_Sulsel Dalam Angka Tahun 2006). Dimana, sebelumnya terdapat beberapa gunung tertinggi lainnya, diantaranya Gunung Rante Mario (3.470 mdpl), Gunung Latimojong (3.305 mdpl), Gunung Bukit Rantai Kombala (3.103 mdpl), Gunung Balease (3.016 mdpl), Gunung Kambuno (2.900 mdpl), Gunung Lompobattang (2.871 mdpl). Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai (Sumber: Wikipedia-Indonesia). Sumber lain menyebutkan Gunung Bawakaraeng hanya memiliki ketinggian 2.705 mdpl (Sumber: Indonesian Backpacker Community.htm dan Wikipedia-Indonesia). Gunung Bawakaraeng berbatasan langsung dengan desa di kaki gunung yaitu desa Lembanna, Desa Kanreapia dan Desa Kampung Baru.

Mitos

Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. "Bawa" artinya "Mulut", "Karaeng" artinya "Tuhan". Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.

Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.

6 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : , ,
Perjalanan menuju Desa Lembanna yang merupakan salah satu jalur akses untuk menuju ke puncak Bawakaraeng kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor sebanyak 5 unit.

Sepanjang perjalanan sangatlah sepi, hanya sesekali saja ada kendaraan yang melintas. Tidak heran karena memang waktu menunjukkan hampir jam 12 malam.

Dinginnya Malino semakin menusuk, tandanya kami hampir sampai. Keheningan Desa Lembanna sesaat menjadi pecah akibat dari suara motor kami.

Ya.. akhirnya kami sampai di rumah Tata Supu pada pukul 00.20, rumah dimana kami akan menitip motor serta barang berharga lainnya yang dianggap tidak penting untuk dibawa.

“Assalamualaikum…..Ma’...Ma’...!!”suara K’Babho memanggil.

Tak lama kemudian, pintu rumah tersebut terbuka. Senyum yang lebar dan mata yang kantuk menyambut kami dengan hangat. Mama, istri Tata Supu dengan begitu ikhlas membukakan pintu rumahnya untuk kami.

Sembari melepas lelah, kami pun memilah-milah barang yang akan kami titip. Kami juga berembuk, apakah kami melanjutkan perjalanan malam ini atau besok. Kami meminta saran kepada K’Hendri dan K'Jaya sebagai Leader kami dan K’Babho sebagai senior kami yang lebih mengenal medan. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan malam ini juga. Pukul 00.50 (24 April 2010) kami meminta izin kepada Mama untuk melanjutkan perjalanan ke Bawakaraeng dan Insya Allah kami kembali pada hari Minggu.

5 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : , ,
Alhamdulillah... detik-detik keberangkatan mulai saya rasakan. Saya sangat bersyukur karena pada akhirnya mendapat restu dari My Parents.. =)

Walaupun mesti berbohong kalau saya berangkat dengan teman cewek saya 5 orang, padahal kenyataannya hanya saya seorang cewek yang berangkat..hehe..
Saya terpaksa berbohong karena jika tidak, tinggal mimpi untuk mendapat restu.

Saya berangkat dengan "9 Manusia Hebat" (saya menyebutnya begitu).
Ya.. 9 orang cowok dan 1 orang cewek (tentu saja itu saya =) siap menghadapi tantangan (lebay mode on).
Sebelum keberangkatan, seperti biasa kami melakukan ritual. Pelepasan dan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua SKALA, Kanda Irvan.

Saya sempat terharu biru.. Hikz..
Saya membayangkan, kalau saja ritual itu adalah ritual terakhir buat kami mengingat medan yang akan kami tempuh tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tapi, cepat-cepat fikir ngacoh itu saya buang (takut juga sih!)

Tepat jam 21 WITA lewat dikit, kamipun meninggalkan Kampus PNUP menuju Desa Lembanna, Malino Kabupaten Gowa.
Ternyata masih ada barang yang tertinggal, kamera!
Barang yang amat sangat penting selama pendakian. Ehm.. ngaret lagi! Cos kami harus mengambil kamera di rumah teman.

Saya datang lebih awal bersama Arifin. Kami menunggu kurang lebih selama 1 jam. Yaa... selama itu saya manfaatkan untuk Online, cek-cek email, dan Chatting dengan Amin. . Hehe. .

Akhirnya, tepat jam 23 WITA di ujung Jalan Hertasning Baru kami berkumpul dan berangkaaaaattt!! :)

4 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : , ,
(telat posting bukan berarti terlupakan)

Fisik dan Mental??
Siapkah saya??

Pertanyaan itu menari-nari dalam otakku, kurang lebih seminggu sebelum keberangkatan kami ke "Gunung Bawakaraeng".

Actually, secara fisik maupun mental, saya belum siap. Tapi banyak faktor pendukung yang mengalahkan ketakutanku itu.

First, semangat yang begitu besar.
Second, teman-teman seperjuangan yang selalu memberi support.
Third, mencapai "Puncak Bawakaraeng adalah impian saya".

Tanggal keberangkatan kami sudah ditentukan. 23 April 2010, sehari setelah "Hari Bumi".
Sebelum berangkat, kami diwajibkan untuk melakukan TC (Technical Control) yang meliputi lari keliling UnHas, sit-up 25 kali, dan push-up 25 kali minimal seminggu. Tapi, saya hanya lari keliling UnHas saja, itupun saya lakukan tidak lebih dari 2 kali alias cuma sekali.. hihi.. (jgn ditiru! karena dapat berakibat fatal). Sebagai hukuman, saya harus menerima hukuman sebanyak 5 set atau 125 kali push-up (bayarnya setelah pendakian). =)

Yah... akibatnya sangatlah fatal. Kita tidak kuat untuk melakukan pendakian, nafas cepat ngos-ngosan, dan kita juga tidak dapat mengangkat beban (angkat kerel maksudnya).

Akibat itu saya rasakan selama dalam pendakian. Huft..
Dalam perjalanan saya sempat menyesal, tapi saya juga punya alasan mengapa saya tidak pernah TC (bukannya saya ingin membela diri loh..). Saya harus mengerjakan tugas kantor yang akan saya tinggalkan selama beberapa hari pendakian. Saya akui, managemen waktu saya kurang dalam hal ini. =)

Mental??
Hampir rapuh..
My parents tidak memberi restu. Segala macam alasan dan rayuan sudah kukerahkan (lebay mode on) tapi mereka juga tak kalah, malah alasannya lebih tidak masuk akal. Ya.. mungkin saking sayangnya dengan anaknya ini.. Hehe. . :D

Saya nggak putus asa donk! Akhirnya mereka mengalah. Mereka memang tahu, saya tidak bisa dibatasi karena saya sudah berjanji akan bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan.
Thanks Mom and Dad. . Luv U. .

Mereka tidak mengalah begitu aja, 2 hari 2 malam saya diceramahi. Yang pesannya itu-itu aja, diulang-ulang, sampai-sampai saya hafal semua pesan mereka.. hihi..

Satu pesan Papa yang juga menjadi motivasi saya mencapai puncak.
"Kamu harus bertanggungjawab atas dirimu dan apa yang kamu lakukan. Papa yakin, kamu bisa mencapai puncak, maka hati-hatilah. Dzikirlah selama perjalanan!"

3 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : ,
Dalam melakukan kegiatan alam terbuka banyak hal-hal yang terduga yang dapat terjadi, maka kita perlu mengetahui teknik survival yaitu upaya untuk mempertahankan hidup.

Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam mengatasi survival yaitu :

S: Size up the situation (dapat membaca situasi)
U: Undue haste makes waste (gunakan barang sisa biarpun yang tidak pantas karena tergesa)
R: Remember where you are (ingat dimana kamu berada)
V: Vanquish fear and panic (menaklukkan ketakutan dan panik)
I: Improvice (membuat sesuatu yang ada)
V: Value living (hargai hidup)
A: Actives the natives (aktiflah yang bersungguh-sungguh)
L: Learn basic skill (belajar keterampilan dasar)

Untuk terlepas dari kondisi survival, ada 5 kebutuhan yang harus diusahakan, yaitu:

1. Perlindungan terhadap faktor yang mengancam.

a. Lokasi yang baik untuk mendirikan tenda atau bivak, yaitu :
  • Daerah yang permukaan tanahnya agak datar.
  • Jangan membangun lokasi tenda di puncak.
  • Usahakan terlindung dari badai, misalnya tempat yang ada pohonnya.
  • Terdapat fasilitas alam yang menunjang, misalnya air.

b. Binatang buas
  • Taburkan garam di sekitar lokasi untuk menghindari.
  • Buat perapian untuk menghindari binatang buas.

2. Makanan

a. Zoology praktis

Contoh hewan yang dapat dimakan, yaitu :
Binatang bertulang belakang (Vertebrata)
Yang termasuk dari golongan hewan Vertebrata yaitu :
  • Kelas Pisces, contoh : ikan.
  • Kelas Amphibi, contoh : katak hijau.
  • Kelas Aves, contoh : burung, ayam.
  • Kelas Mamalia, contoh : sapi, kera, ikan paus, lumba-lumba dan tikus.

Contoh hewan yang tidak dapat dimakan, yaitu :
Binatang tidak bertulang belakang (Invertebrata)
Yang termasuk dari golongan hewan Invertebrata yaitu :
  • Filum Protozoa (hewan bersel satu), contoh : Amoeba proteus, Euglena, Paramaecium caudatum, dan Plasmodium vivax.
  • Filum Porifera (hewan tidak memiliki alat gerak), contoh : Sycon dan Clathrina sp.
  • Filum Coelenterata (hewan yang hidup di air laut maupun air tawar), contoh : ubur-ubur
  • Filum Platyheminthes (hewan yang tidak mengalami spesialisasi), contoh : cacing planaria dan cacing pita.
  • Filum Nemathelminthes (hewan bertubuh gilik atu bulat-panjang), contoh : cacing kremi dan nyamuk culex.
  • Filum Annelida (tubuhnya memanjang dan bersegmen), contoh : cacing tanah, lintah dan pacet.
  • Filum Mollusca (hewan yang tubuhnya lunak dan berlendir), contoh : bekicot dan siput.
  • Filum Echinodermata (hewan berkulit duri), contoh : Echinos esculentus
  • Filum Arthopoda (kaki dan tubuh berbuku-buku.

b. Botani praktis

Jenis-jenis Tumbuhan yang tidak diketahui dan dapat dimakan :
  • Bagian tumbuhan yang masih muda.
  • Tumbuhan yang tidak mengandung getah.
  • Tumbuhan yang tidak berbulu.
  • Tumbuhan yang tidak berbau kurang sedap.
  • Tumbuhan yang dimakan hewan mamalia.
  • Tumbuhan yang tidak berwarna mencolok.

Langkah-langkah yang perlu jika akan memakan tumbuhan :
  • Makan tumbuhan yang sudah dikenal.
  • Potong sedikit bagian tumbuhan lalu oleskan pada bibir atau siku dengan lengan dan tunggu reaksinya, bila tidak ada rasa aneh (gatal dan pahit) maka boleh dimakan.
  • Usahakan memasak bagian tumbuhan yang dimasak.

c. Air

Cara memperoleh air :
  • Memotong batang pohon rotan atau kaktus lalu airnya ditadah.
  • Membungkus bagian pohon (batang dan daun untuk seluruh tanaman) dengan kantung plastic dan kumpul hasil penguapan airnya.
  • Dengan menggali tanah.
  • Dengan membentangkan ponco.

d. Komunikasi dengan pihak luar

Tanda-tanda yang dipakai :

  • Suara (peluit, teriakkan dan lain-lain).
  • Cahaya atau api.
  • Kain atau bendera.
  • Asap.

2 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : ,
Navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya maupun di peta.

1. Kompas

Kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam memakai kompas perlu dijauhkan dari pengaruh benda yang mengandung logam.

Menentukan arah kompas :
  • Kuburan islam menghadap utara.
  • Mesjid menghadap ke kiblat, untuk Indonesia menghadap kearah barat laut.
  • Bagian pohon yang berlumut tebal menunjukkan arah timur.
  • Melihat posisi matahari terbit, arah matahari terbit menghadap arah timur.
  • Pada lokasi terbuka tancapkan tongkat ke dalam tanah lalu tunggu sekitar lima menit dan tandai lagi bayangannya yang baru, hubungkan kedua titik. Titik pertama menunjukkan arah timur dan titik kedua menunjukkan arah barat.
  • Untuk menentukan arah utara selatan, setelah diketahui arah timur, tangan kanan menunjukkan arah utara dan tangan kiri menunjukkan arah selatan.

2. Resection

Resection yaitu menentukan posisi kita di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali.

Langkah-langkah resection :
  • Lakukan orientasi peta.
  • Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan peta, minimal dua buah.
  • Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut.
  • Bidik tanda-tanda medan tersebut diposisi kita.
  • Pindahkan sudut bidikan yang didapat kep eta dan hitung sudut pelurus (dikurangi 180ᵒ)
  • Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita di peta.

3. Intersection

Intersection yaitu menentukan posisi di suatu titik (benda) dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan.

Langkah-langkah melakukan intersection :
  • Lakukan orientasi dan pastikan posisi kita.
  • Bidik objek yang kita amati.
  • Pindahkan sudut yang didapat dipeta.
  • Bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut dipeta. Lakukan langkah yang sama.
  • Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi objek yang dimaksud.

1 May 2010

Posted by Vby Utami | File under : ,
1. Tujuan
Merumuskan suatu tujuan haruslah berdasarkan realita, tidak boleh terlalu ambisius. Tujuan haruslah disesuaikan dana yang telah tersedia, kemampuan anggota, dan waktu. Setiap anggota harus mengetahui dengan jelas tujuan perjalanannya, hal ini untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi.

2. Waktu
Apakah waktu yang ditetapkan bisa diikuti oleh semua anggota perencanaan perjalanan alam bebas harus pula memperhitungkan kalender kuliah atau pekerjaan anggota-anggotanya. Hal lain yang harus diperhatikan adalah musim pada saat pelaksanaan perjalanan alam terbuka.

3. Peserta
Jumlah anggota yang ikut haruslah ditetapkan dengan beberapa pertimbangan, berapa orang yang dapat dilibatkan dengan fasilitas transportasi yang ada, berapa orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tujuan berdasarkan keahlian, pengalaman dan minat peserta bekerjasama untuk menentukan itu semua maka seleksi haruslah dilakukan. Tentukan koordinator perjalanan (leader), bidang-bidang koordinasi, subkoordinasi, seperti bidang dana, publikasi dan dokumentasi, perlengkapan akomodasi, logistik, medis, dan lain-lain. Koordinator perjalanan haruslah dipilih dari orang-orang yang berwibawa dan punya pengalaman sebagai pemimpin. Dia tidak harus seorang pendaki yang hebat, tetapi yang lebih penting lagi adalah yang mampu mengkoordinasi pendakian tersebut.

4. Anggaran Keuangan
Dalam melakukan perjalanan alam terbuka kita membutuhkan dana yang cukup besar dikarenakan medan yang ditempuh cukup jauh.
Alokasi dana atau perjalanan harus tepat dan masuk akal. Buatlah anggaran yang terperinci untuk setiap bidang. Pengeluaran dan pemasukan uang hanya berhak dilakukan oleh satu orang, misalnya bendahara atau pemimpin perjalanan.

5. Perijinan
Setiap daerah atau negara mempunyai peraturan perijinan yang berbeda. Izin ini tergantung juga pada sifat ekspedisi yang akan dilakukan misalnya untuk penelitian, wisata, pembuatan film, atau petualangan. Demikian pula apabila perjalanan itu gabungan dengan pihak luar negeri, bagaimana prosedurnya haruslah diperhitungkan.

6. Pembukuan Perjalanan
Pembukuan sebaiknya dilakukan secepatnya, kalau perjalanan itu dilakukan pada masa liburan misalnya, pembukuan harus dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum kehabisan tiket. Kalau suatu lembaga memastikan akan memberikan bantuan transportasi tentulah kita tidak akan kesulitan, tinggal menentukan tanggal keberangkatan yang pasti.

7. Sponsor dan Publikasi
Adakalanya pencantuman seorang penasehat atau pelindung dalam organisasi perjalanan dilakukan dengan pertimbangan diplomatis, yaitu untuk mendukung organisasi itu dalam usaha untuk mencari kemudahan fasilitas atau lainnya.
Publikasi di media massa seringkali penting dan berkaitan erat dengan usaha pengumpulan dana. Seorang yang bertanggungjawab atas publikasi perlu ditunjuk. Dia harus pandai berhubungan dengan pihak luar dan menarik minat pers untuk menyiarkan ekspedisi ini baik di koran, majalah, radio maupun televisi. Siaran pers harus disiapkan secara menarik lengkap dengan foto atau gambar.

8. Penelitian dan Perencanaan Perjalanan
Perencanaan terperinci harus dilakukan oleh setiap bidang. Kalau memang memungkinkan ada baiknya mengirimkan satu kelompok pendahulu untuk dilakukan survey lokasi, yang bertugas mencari informasi tentang lokasi. Tinggi gunung, tumbuh-tumbuhan yang ada, arus sungai, temperatur, adat istiadat penduduk setempat, semua informasi tersebut haruslah diketahui. Team survey harus juga mencari informasi tentang camp induk yang akan didirikan dan untuk melapor pada pejabat setempat, tidak lupa menghubungi puskesmas atau dokter setempat (untuk bekerja sama apabila ada kecelakaan dalam perjalanan). Bila survey tidak bisa dilaksanakan, pencarian informasi bisa dilakukan dengan bertanya kepada orang yang sudah pernah berekspedisi ke sana, membaca buku atau mempelajari peta.
Dengan terkumpulnya seluruh informasi kita dapat merencanakan perjalanan sematang mungkin. Lakukanlah pengecekan dan konfirmasi seluruh informasi apa yang telah masuk. Checklist perlengkapan disesuaikan dengan kondisi lokasi, buatlah daftar peralatan yang harus dibawa oleh individu atau kelompok. Pastikan tiap anggota membawa P3K dan obat-obatan pribadi.

9. Perencanaan di Lapangan
Kegiatan di lapangan harus sudah jauh-jauh hari disiapkan. Dirumuskan secara terperinci dalam schedule. Susunlah rencana itu dalam suatu jadwal khusus hari per hari. Tetapkanlah waktu yang diperlukan untuk mencapai target/ tujuan perjalanan, serta strategi yang akan digunakan dan rute yang akan ditempuh, serta tempat menginap/ bivak.

10. Briefing
Seluruh anggota perjalanan akhirnya dikumpulkan untuk menerima briefing. Pada kesempatan ini, pimpinan perjalanan menjelaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan perjalanan antara lain : tujuan, lokasi, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, metode dan strategi di lapangan, dan lain sebagainya, kalau perlu dalam kesempatan ini diadakan pula ceramah oleh para ahli untuk menjelaskan tentang lokasi dari segi geologi atau antropologi. Kesempatan ini juga dapat dilaksanakan untuk mengenal dan mengadakan latihan pemakaian peralatan baru.

11. Check Kesehatan
Pastikan semua anggota telah melakukan check kesehatan. Usahakan mendapat vaksinasi untuk mencegah demam, tuberculoses, serta anti tetanus.

12. Pelaksanaan di Lapangan
Dalam tahap ini pemimpin perjalanan langsung menangani pelaksanaan perjalanan. Pimpinan harus pandai menekankan kepada anggota-anggotanya bahwa keberhasilan suatu perjalanan ditentukan oleh kemampuan setiap anggota untuk belajar dan bekerjasama sebagai suatu kelompok yang utuh, pada setiap kesempatan lakukanlah pertemuan untuk mengadakan evaluasi dan diskusi mengenai masalah-masalah yang dihadapi. Berilah kesempatan setiap bidang untuk melaporkan setiap kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan, sehingga setiap anggota akan dapat mengetahuinya.

13. Setelah Perjalanan
Tahap ini adalah anti klimaks, sehingga kegiatannya seringkali terulur-ulur, bahkan tak jarang dilupakan. Baiknya membuat laporan perjalanan. Kalau memungkinkan kirimkanlah ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran perjalanan.